Setiap orang juga mengetahui mengenai barang dan jasa yang ingin didapatkan/digunakan dalam jangka waktu yang tepat.
Secara ekonomi, pengertian dari nilai guna atau manfaat barang dan jasa adalah kemampuan atau daya barang dan jasa dalam memenuhi kebutuhan manusia.
Begitu juga dengan handphone, seseorang membeli handphone agar dia dapat berkomunikasi dan mendapat informasi secara cepat dan tepat.
Begitu juga dengan barang lainnya, semua barang atau jasa pasti memiliki nilai guna untuk memuaskan kebutuhan manusia.
a.Nilai Pakai (value in use).
Tinggi atau rendahnya nilai pakai suatu barang ditentukan oleh intensitas kebutuhan, tempat dan waktu.
- Nilai Pakai Subjektif.
- Nilai Pakai Objektif.
Nilai Pakai Subjektif adalah nilai yang diberikan seseorang pada suatu barang, sehubungan dengan kemampuan barang tersebut dalam memenuhi atau memuaskan kebutuhan.
Misalnya Buku tulis bagi siswa, obat bagi orang sakit, nasi bagi orang lapar, dan sebagainya.
Nilai Pakai Objektif adalah kemampuan suatu barang untuk dapat memuaskan kebutuhan pada umumnya.
Misalnya Pakaian, makanan, perumahan sangat bernilai bagi suatu keluarga, buku pelajaran sangat bernilai bagi siswa.
b.Nilai Tukar (value in exchange).
Contoh Beras memiliki nilai pakai yang lebih besar daripada jagung, sehingga nilai tukar beras lebih tinggi daripada nilai tukar jagung.
Semakin tinggi nilai pakai suatu barang, maka semakin tinggi pula nilai tukarnya.
Misalnya Beras, gula pasir, semen, besi baja, dan lain sebagainya.
- Nilai Tukar Subjektif.
- Nilai Tukar Objektif.
Nilai Tukar Subjektif adalah nilai yang diberikan seseorang pada suatu barang sehubungan dengan kemampuan barang tersebut untuk dapat ditukarkan dengan barang lain.
Contohnya Seorang pembangun bangunan memberikan penilaian pada hasil bangunan yang dibuatnya menurut ukuran penilaiannya sendiri. Begitu juga dengan seorang petani yang memberikan penilaian pada padi yang dihasilkannya menurut ukurannya sendiri.
Nilai Tukar Subjektif adalah kemampuan suatu barang untuk dapat ditukarkan dengan barang lain. Hampir semua barang yang ada didalam masyarakat mempunyai nilai tukar objektif, karena setiap manusia tidak selalu membuat semua barang-barang yang diperlukannya. Dalam kata lain seseorang pasti membeli barang yang dibuat oleh orang lain meskipun dia sudah memiliki barang yang serupa.
Semakin maju pembagian kerja dalam masyarakat, maka makin mudah kita memperoleh barang-barang dengan jalan pertukaran. Maka dengan sendirinya barang-barang tersebut mempunyai nilai tukar objektif.
Misalnya menggantikan penggunaan sandal dengan sepatu, menggantikan penggunaan bus dengan taxi, penggunaan lampu dengan lilin, dan sebagainya.